Daftar Perusahaan Kontraktor Terbesar di Tanah Air
Perusahaan kontraktor merupakan bagian penting dari pembangunan berbagai proyek konstruksi besar di Indonesia. Negara kita sendiri termasuk salah satu negara berkembang, di mana kita banyak melakukan pembangunan dalam berbagai sektor sekaligus.
Pembangunan berbagai proyek raksasa ini tentu membutuhkan ketelitian dan keahlian dari orang-orang yang kompeten di bidangnya. Hal inilah yang dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan kontraktor yang telah terbiasa menangani mega proyek dengan budget yang juga luar biasa besar.
Perusahaan Kontraktor Sukses di Indonesia

Mengerjakan proyek-proyek besar di tanah air merupakan hal yang sudah biasa dilakukan oleh sejumlah perusahaan kontraktor ternama. Di Indonesia sendiri terdapat belasan perusahaan sukses di bidang yang satu ini, beberapa tentu saja perusahaan yang berstatus sebagai milik negara.
Berikut ini adalah daftar perusahaan-perusahaan kontraktor terbesar dan ternama di tanah air:
1. Perusahaan Kontraktor Adhi Karya
Adhi Karya merupakan perusahaan milik negara yang memiliki bisnis cukup luas di berbagai bidang sekaligus, seperti: properti, konstruksi, engineering & construction (EPC), bahkan termasuk LRT yang belakangan ini sudah mulai beroperasi di wilayah ibukota.
Emiten yang melantai di bursa menggunakan kode saham ADHI ini merupakan perusahaan kontraktor terbesar di tanah air dan sudah menangani berbagai mega proyek. Beberapa waktu kedepan, Adhi Karya akan menangani pembangunan jalan tol Semarang – Demak 1C yang bernilai fantastis, yakni sebesar Rp 2,1 triliun.
Adhi Karya dikenal sebagai perusahaan raksasa yang biasa menangani proyek dengan kontrak luar biasa. Di tahun 2021 lalu saja, perusahaan ini berhasil mendapatkan kontrak baru senilai Rp 15,2 triliun (di luar pajak), di mana 90% nya merupakan bisnis Engineering dan Konstruksi, 9% merupakan bisnis properti, dan sisanya adalah lini bisnis lainnya.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan sampai per 30 September 2021, perseroan telah membukukan laba bersih sebesar Rp 17,02 miliar dengan laba operasional Rp 594,90 miliar. Sedangkan arus kas perseroan ini minus Rp 1,53 triliun dengan nilai ekuitas Rp 5,57 triliun dan liabilitas Rp 35,16 triliun. Berdasarkan laporan tersebut, maka total aset perusahaan ini per September 2021 adalah sebesar Rp 40,76 triliun.
2. Perusahaan Kontraktor Wijaya Karya
Wijaya Karya yang melantai dengan kode saham WIKA ini merupakan perusahaan konstruksi lainnya milik negara. Ada banyak proyek besar yang ditangani perusahaan ini selama 2021, termasuk pembangunan Bandara Doho milik PT. Gudang Garam dengan nilai sekitar Rp 1,5 triliun. Perusahaan ini juga menangani revitalisasi Bandara Halim Perdana Kusuma untuk kebutuhan KTT G20.
Hingga akhir Januari 2021, perseroan sudah mendapatkan kontrak baru senilai Rp 4,07 triliun atau setara dengan 9,56% dari target kontrak baru yang ditentukan. Salah satu kontrak ini adalah kerja sama desain serta konstruksi dengan PT Bintaro Serpong Damai (BSD) dan juga PT Margautama Nusantara (MUN).
Berdasarkan laporan keuangan di Kuartal III/ 2021, perseroan sudah mendapatkan laba bersih sebesar Rp 22 miliar. Sementara di tahun sebelumnya perusahaan mencatatkan kerugian bersih senilai Rp 200 miliar. Sedangkan pendapatan pada kuartal III/ 2021 adalah sebesar Rp 4,88 triliun.
3. Perusahaan Kontraktor Pembangunan Perumahan
PT Pembangunan Perumahan (PTPP) dibentuk di tahun 1953 silam. Di dalam perjalanannya, PTPP sukses membangun sejumlah gedung megah, antara lain: Hotel Indonesia, Bali Beach Hotel, Ambarukmo Palace Hotel Yogyakarta, dan Samudera Beach Hotel Pelabuhan Ratu.
Meski sempat menurun, performa keuangan perusahaan ini diharapkan bisa membaik seiring dengan terjadinya pemulihan di sektor ekonomi. Hingga kuartal III/ 2021, perseroan milik negara ini sudah mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 9,7%, menjadi Rp 11 triliun. Hal ini menyebabkan penurunan laba bersih sebesar 51%, menjadi Rp 207 miliar.
Baca Juga: Jenis – Jenis Alat Berat Industri Lanskap yang Banyak Digunakan
4. Perusahaan Kontraktor Waskita Karya
Perusahaan milik negara ini didirikan tahun 1961 silam dan sudah membangun banyak karya, antara lain: Gedung BNI 46, Gedung Bank Indonesia (BI), Hotel Shangri-La dan juga Menara Mandiri Plaza. Selama beberapa tahun belakangan, Waskita juga banyak menangani pembangunan jalan tol di berbagai wilayah tanah air. Selain membangun, perusahaan ini juga mencoba mendivestasikan saham dalam sejumlah ruas tol tersebut.
Sampai kuartal III/ 2021, perseroan sudah mendapatkan laba senilai Rp 232 miliar, meskipun di tahun sebelumnya sempat mengalami kerugian bersih sampai Rp 3 triliun. Laba bersih ini ditunjang dengan divestasi yang dilakukan pada 3 jalan tol yang nilainya mencapai Rp 2,1 triliun.
5. Perusahaan Kontraktor Hutama Karya
Meski namanya belum melantai di bursa, namun perusahaan langsung dikenal luas setelah mendapatkan kepercayaan dari pemerintah untuk membangun jalan tol Trans Sumatera. Di tahun 2022, perusahaan ini telah menerima PNM senilai Rp 23,85 triliun untuk penyelesaian sejumlah ruas yang terdapat di JTTS. Sedangkan dua tahun sebelumnya, Hutama Karya juga mendapatkan PMN sebesar Rp 25,2 triliun yang direalisasikan dalam 3 tahap.
Perusahaan ini berfokus pada usaha penyelesaian pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) tahap I. Hutama Karya berupaya mempercepat tahap pembangunan dan penyelesaian desainnya, termasuk pembebasan lahan yang terdapat di ruas-ruas prioritas. Selain itu, perusahaan ini juga sedang menggarap pembangunan Runway Bandara Internasional Lombok, Apartemen Aspena Pluit Sea View, dan sejumlah proyek lainnya.
6. Perusahaan Kontraktor Total Bangun Persada
Total Bangun Persada adalah perusahaan konstruksi swasta yang sudah berdiri sejak tahun 1970 dan sudah menangani sejumlah proyek besar di tanah air. Di akhir tahun 2020, perusahaan ini mendapatkan kontrak dari Intiland Development untuk pembangunan apartemen SQ Res yang ditargetkan selesai pada triwulan pertama 2021. Selain itu, emiten yang menggunakan kode saham TOTL ini berhasil mendapatkan sejumlah kontrak besar lainnya selama tahun 2021.
Di tahun 2022, Total Bangun Persada menargetkan kontrak baru sebesar Rp 2 triliun. Sama dengan tahun-tahun sebelumnya, perusahaan ini banyak menangani pembangunan berskala cukup besar, seperti: apartemen, pusat perbelanjaan, sekolah, hotel, gedung perkantoran, dan yang lainnya.
Baca Juga: Teknologi Konstruksi: Pengertian, Perkembangan, Fungsi dan Jenisnya
7. Perusahaan Kontraktor Jaya Konstruksi Manggala Pratama
Terpilih sebagai pemenang proyek pembangunan sirkuit Formula E 2022, nama PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk langsung dikenal secara luas. Emiten perusahaan ini dikenal sebagai perusahaan infrastruktur yang terintegrasi dengan banyak bisnis, seperti: konstruksi, aspal dan bahan bakar gas cair (LPG), pabrikasi beton pracetak, perdagangan, pekerjaan mekanikal, dan yang lainnya.
Selama masa pandemi, bisnis perusahaan ini sedikit tersendat. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2021, terjadi penurunan pendapatan usaha sebesar 1,88%, menjadi Rp 1,95 triliun, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,99 triliun. Ada banyak proyek yang ditangani oleh Jaya Konstruksi Manggala Pratama, termasuk pembangunan Rusun Penjaringan dan juga Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta.
8. Perusahaan Kontraktor Nindya Karya
Ini merupakan salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang General Contractor, EPC dan Investment. Nindya Karya memiliki 5 cakupan bisnis utama, yakni: Konstruksi, Energi, Manufaktur, Properti dan Badan Usaha Jalan Tol. Salah satu mega proyek yang pernah ditangani perusahaan ini adalah pembangunan Stadion Gelora Bung Karno.
Beberapa waktu yang lalu, perusahaan ini menangani pembangunan Proyek Pengendalian Banjir Kali Bekasi Paket I. Selain itu, Nindya Karya juga menangani pembangunan proyek Kawasan Industri Medan (KIM) Plaza dan Waste Water Treatment Plant (WWTP) yang dikerjakan bersama perusahaan Indra Karya dan Virama Karya yang juga berstatus sebagai BUMN.
9. Perusahaan Kontraktor Brantas Abipraya
Didirikan tahun 1980 silam, PT Brantas Abipraya sendiri merupakan produk dalam pembangunan Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Kali Brantas. Perusahaan ini menjalankan bisnis utama dalam segmen bangunan air. Namun di tahun 2011 lalu, bisnis perusahaan diperluas ke dalam beberapa bidang yang baru, yakni dalam konstruksi, industri, perdagangan, dan jasa
Bisnis perusahaan ini berkembang pesat, terutama setelah pembentukan anak usaha baru belasan tahun lalu. Brantas Abipraya bersama perusahaan BUMN lainnya menangani pembangunan tol Yogyakarta – Bawen, di mana proyek ini memiliki nilai proyek yang fantastis, yakni sebesar Rp 14,26 triliun.
Baca Juga: Mengenal Bahan Material Konstruksi dan Tips Memilihnya
10. Perusahaan Kontraktor Amarta Karya
Perusahaan yang pada awalnya milik pemerintah Belanda ini mengalami nasionalisasi dan menjadi sebuah BUMN. Amarta Karya menangani bisnis konstruksi dalam beberapa bidang, yakni: mekanikal, sipil, dan elektrikal. Ada banyak proyek yang ditangani perusahaan BUMN ini, antara lain: pembangunan jembatan, bandara, terminal kargo, dan yang lainnya.
Beberapa waktu belakangan ini, Amarta Karya juga mencoba mengembangkan lini bisnis mereka ke berbagai bidang lainnya, termasuk manufaktur, infrastruktur, dan pembangunan gadung. Namun bisnis konstruksi baja tentu masih menjadi bisnis utama perusahaan yang memiliki kinerja yang terbilang stabil ini.
Dampak Sosial dan Ekonomi Lokal dari Aktivitas Perusahaan Kontraktor
Perusahaan kontraktor tidak hanya berperan dalam membangun infrastruktur fisik seperti jalan, gedung, jembatan, atau pelabuhan, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar proyek. Berikut adalah beberapa bentuk kontribusinya:
1. Pemberdayaan Tenaga Kerja Lokal
Mayoritas proyek konstruksi di berbagai daerah menyerap tenaga kerja dari komunitas setempat. Hal ini:
- Meningkatkan pendapatan masyarakat lokal
- Mengurangi angka pengangguran di wilayah proyek
- Memberi kesempatan kerja bagi pekerja non-formal dan semi-terampil
Contohnya, proyek pembangunan jalan nasional di daerah pelosok sering melibatkan warga lokal sebagai tukang, kuli bangunan, atau tenaga pendukung logistik.
2. Keterlibatan UMKM Lokal
Perusahaan kontraktor biasanya bermitra dengan:
- UMKM penyedia bahan bangunan (pasir, batu, semen, dsb.)
- Jasa katering lokal untuk konsumsi pekerja proyek
- Transportasi lokal untuk distribusi material
Hal ini menciptakan efek domino ekonomi yang memperkuat ekosistem usaha kecil dan menengah di sekitar lokasi pembangunan.
3. Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR)
Kontraktor skala besar, khususnya BUMN, diwajibkan untuk melaksanakan program CSR yang menyasar masyarakat dan lingkungan, seperti:
- Perbaikan fasilitas umum (jalan desa, saluran air, sekolah)
- Pelatihan vokasi atau konstruksi untuk masyarakat sekitar
- Penanaman pohon / konservasi lingkungan
Contoh nyata: PT Wijaya Karya (WIKA) menargetkan penanaman 20.000 pohon mangrove sebagai bagian dari upaya pembangunan berkelanjutan dan dekarbonisasi nasional.
4. Perbaikan Akses dan Konektivitas Daerah
Keberadaan proyek infrastruktur seperti jembatan atau jalan baru otomatis:
- Membuka akses baru ke wilayah yang sebelumnya terisolasi
- Mempermudah distribusi hasil pertanian atau produk lokal
- Meningkatkan nilai tanah dan properti di sekitar proyek
Efek jangka panjang ini berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi wilayah secara menyeluruh.
Perusahaan Kontraktor di Indonesia Berkembang Pesat
Tingginya pembangunan infrastruktur di tanah air merupakan salah satu potensi besar bagi bisnis konstruksi. Hal ini bisa dilihat dari perkembangan sejumlah perusahaan kontraktor di tanah air selama belasan tahun belakangan. Bukan hanya menangani proyek di dalam negeri saja, sejumlah perusahaan ini juga sukses penanganan sejumlah proyek di luar negeri.
Jangan ragu untuk mengajukan asuransi umum di Cermati Protect sekarang! Dapatkan penawaran terbaik untuk perlindungan lengkap atas aset berharga Anda dengan mengisi formulir dibawah ini!

3 comments
Comments are closed.