Mengenal Manajemen Proyek Konstruksi dalam Proyek

two man holding white paper
Photo by Anamul Rezwan on Pexels.com

Mengenal Manajemen Proyek Konstruksi dalam Proyek

Manajemen proyek konstruksi adalah tatanan atau susunan dari berbagai elemen yang terdapat pada sebuah bangunan, di mana masing-masing elemen tersebut berkedudukan sesuai dengan fungsinya. 

Manajemen sendiri merupakan pemanfaatan sumber daya secara efektif demi mencapai tujuan/ sasaran. Artinya, manajemen memiliki tanggung jawab penuh dalam keberlangsungan sumber daya, sehingga segala sesuatunya bisa berjalan secara maksimal dan tepat sasaran.

Tujuan Manajemen Proyek Konstruksi 

Manajemen proyek konstruksi adalah usaha manajemen yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian kegiatan proyek dari awal hingga akhir, dimana hal ini dilakukan dengan pengalokasian sumber daya dengan efektif dan efisien, sehingga tujuan yang diharapkan bisa tercapai. 

Manajemen proyek konstruksi memiliki tujuan untuk mengelola pelaksanaan proyek, sehingga proyek tersebut bisa berjalan sesuai rencana dan memberikan hasil yang maksimal. 

Berikut ini adalah beberapa macam tujuan yang terdapat dalam manajemen proyek konstruksi: 

1. Memaksimalkan Potensi Sumber Daya Manusia (SDM)

Kesuksesan sebuah proyek akan sangat tergantung pada kualitas SDM yang menanganinya. Untuk mewujudkan hal tersebut, manajemen proyek konstruksi akan sangat dibutuhkan. Mengelola dan mengembangkan potensi SDM dengan optimal merupakan salah satu tujuan manajemen proyek konstruksi. 

2. Memanfaatkan Peluang-peluang di dalam proyek

Pengelolaan proyek harus dilakukan dengan tepat. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dengan mengembangkan proyek untuk mendapatkan peluang-peluang yang baru, namun tanpa mengubah nilai atau tujuan utama yang akan dicapai dalam proyek tersebut. 

3. Mengelola Risiko Kegagalan Proyek

Manajemen proyek konstruksi juga akan mengelola berbagai risiko yang mungkin saja menggagalkan proyek, sehingga proyek tersebut bisa sukses dan mencapai tujuan yang sudah direncanakan. 

4. Membuat Perencanaan yang Tepat

Proyek yang sukses tentu harus diawali dengan sebuah perencanaan yang matang sejak awal. Untuk mencapai kesuksesan tersebut, manajemen proyek konstruksi akan sangat berperan dalam menjaga ritme rencana proyek, sehingga setiap tahap bisa dieksekusi dengan baik dan sesuai perencanaan. 

5. Mengelola Integritas

Manajemen proyek juga akan membuat rasa percaya diri para stakeholder menjadi lebih tinggi. Bukan hanya selama pembangunan proyek, namun hal ini akan terlihat jelas sampai di akhir, saat proyek tersebut sudah berhasil diselesaikan dengan baik. 

Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur: Pengertian, Jenis, Komponen, Fungsi dan Manfaatnya

Tugas Manajemen Proyek Konstruksi

Berikut ini adalah beberapa tugas manajemen proyek konstruksi dalam proyek: 

  • Melakukan pengawasan terhadap pengerjaan proyek di lapangan, untuk memastikan apakah semua pekerjaan sudah berjalan sesuai metode konstruksi yang seharusnya. 
  • Meminta laporan tertulis terkait progres serta penjelasan masing-masing item dari kontraktor.
  • Memberi teguran atau menghentikan proses pengerjaan proyek, jika tidak berjalan sesuai dengan kesepakatan awal. 
  • Melaksanakan rapat secara berkala (mingguan dan bulanan) dengan menghadirkan konsultan, wakil owner, dan juga kontraktor. 
  • Berhubungan secara langsung dengan owner maupun wakil owner untuk menyampaikan berbagai hal terkait proyek yang ditangani. 
  • Melaporkan progres pengerjaan proyek kepada owner secara langsung. 
  • Mengesahkan material-material yang akan dipakai dalam proyek, untuk memastikan apakah sudah sesuai dengan spesifikasi yang tertera dalam kontrak. 
  • Mengatur, memberi arahan dan mengkoordinasikan pelaksanaan pekerjaan yang dijalankan oleh kontraktor terkait aspek mutu dan waktu penyelesaiannya. Mengesahkan perubahan kontrak, jika sewaktu-waktu kontraktor mengajukannya. 
  • Melakukan pemeriksaan gambar shop drawing yang diberikan kontraktor, sebelum pekerjaan mulai dilaksanakan.  
  • Secara berkala melakukan peninjauan ulang metode pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan kontraktor, agar sesuai dengan syarat K3LMP “Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Lingkungan, Mutu dan Pengamanan”.  
  • Memberikan Site Instruction secara tertulis, jika sewaktu-waktu terdapat pekerjaan yang harus dilaksanakan namun tidak tercantum pada kontrak yang sudah dibuat sebelumnya. 

Peran Manajemen Proyek Konstruksi

Manajemen proyek konstruksi juga memiliki sejumlah peran, berikut ini adalah beberapa di antaranya: 

Agency Construction Management (ACM)Manajer konstruksi memiliki peran sebagai koordinator “penghubung” antara perancang dan pelaksana, serta antar kontraktor. Hal ini akan diawali dari tahap perencanaan, di mana pihak owner membuat kontrak untuk para kontraktor yang disesuaikan dengan berbagai pekerjaan yang dibutuhkan dalam proyek. 
Extended Service Construction Manajemen (ESCM)Manajemen konstruksi juga memiliki peran sebagai kontraktor. Hal ini dijalankan demi menghindari adanya konflik kepentingan di antara pihak manajemen dengan kontraktor yang menangani pekerjaan. 
Owner Construction Management (OCM)Manajemen konstruksi profesional juga memiliki peran sebagai pemilik, sehingga pihak manajemen juga akan memiliki tanggung jawab atas manajemen proyek yang sedang dijalankan. 
Guaranteed Maximum Price Construction Management (GM PCM)Manajemen konstruksi akan cenderung bertindak sebagai kontraktor umum, daripada sebagai wakil pemilik. Dalam hal ini, konsultan GMP CM sendiri tidak menjalankan pekerjaan konstruksi, namun yang bersangkutan akan bertanggung jawab terhadap pemilik terkait dengan waktu, biaya dan juga mutu. Hal ini membuat manajemen berperan menjadi pemberi kerja kepada para kontraktor. 

Baca Juga: Mengenal Bahan Material Konstruksi dan Tips Memilihnya

Tahapan dalam Manajemen Proyek Konstruksi

Manajemen proyek konstruksi memiliki beberapa tahapan yang berbeda, berikut ini adalah penjelasannya: 

Tahapan Manajemen Proyek Konstruksi Menurut Dipohusodo (1995) 

1. Pengembangan Konsep

Melaksanakan survei awal melalui investigasi lapangan di mana proyek akan dilaksanakan. Hal ini bertujuan untuk mengumpulkan berbagai informasi, seperti: upah tenaga kerja di wilayah tersebut, harga material, perizinan dari pemerintah setempat, kemampuan kontraktor atau konsultan setempat, iklim setempat, termasuk upaya untuk mengantisipasi berbagai kendala yang mungkin timbul. 

2. Perencanaan

Hal ini diawali dengan pengajuan proposal, melakukan survei lanjutan, penyusunan desain awal serta perancangan detailnya. Langkah-langkah ini akan mempengaruhi rencana kerja final yang memiliki beberapa sasaran, yakni: 

  • Menerapkan pedoman pelaksanaan pekerjaan, sehingga bisa diperoleh  harga kontrak konstruksi dan material yang lebih pasti , tetap dan bersaing, agar tidak melampaui jumlah anggaran yang tersedia. 
  • Pekerjaan bisa diselesaikan sesuai dengan kualitas dan tenggat waktu yang sudah ditentukan. 

3. Pelelangan

Ini merupakan proses lelang yang akan diakhiri dengan terpilihnya pemenang atas proyek yang akan dilaksanakan. 

4. Pelaksanaan Konstruksi

Tahap ini mencakup persiapan lapangan, pelaksanaan proyek hingga selesai. Pada pelaksanaan proyek, perlu untuk tetap fokus terhadap pengendalian biaya serta jadwal konstruksi yang telah ditetapkan. Pengendalian biaya ini bertujuan untuk memastikan alokasi seluruh biaya bisa tetap terkontrol. Sedangkan pengendalian jadwal bertujuan untuk memastikan proyek bisa berjalan sesuai rencana dan diselesaikan dengan tepat waktu. 

5. Pengoperasian

Jika konstruksi fisik sudah selesai, maka pihak penyedia jasa akan menyerahkannya kepada pengguna jasa untuk selanjutnya dioperasikan. Namun pihak penyedia jasa tetap akan bertanggung jawab dalam memelihara bangunan tersebut sesuai dengan perjanjian yang sudah dibuat. 

Tahapan Manajemen Proyek Konstruksi Menurut Austen dan Neale (1994) dalam Suyatno (2010) 

1. Briefing

Klien memberi penjelasan terkait fungsi serta biayanya, sehingga arsitek surveyor dan pihak terkait lainnya bisa memanfaatkan biaya tersebut dengan tepat sasaran. 

2. Perencanaan dan Perancangan

Tahap ini memiliki tujuan untuk melengkapi serta menentukan tata letak, rancangan, metode konstruksi dan taksiran biayanya, sehingga bisa mendapat persetujuan dari pihak klien dan pihak-pihak terkait lainnya.

3. Pelelangan

Ini merupakan tahap penunjukan kontraktor yang akan menangani proyek konstruksi, di mana kontraktor yang diterima merupakan penawaran yang paling tepat dan disetujui oleh klien. 

4. Kontruksi atau pelaksanaan

Ini adalah tahap pembangunan proyek sesuai dengan biaya, waktu dan mutu yang sudah ditetapkan sejak awal. Aktivitas ini terdiri dari perencanaan, koordinasi dan kontrol lapangan.

5. Persiapan penggunaan

Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa proyek bisa diselesaikan sesuai dengan dokumen kontrak yang telah disepakati. Proses ini terdiri dari beberapa tahap berikut: 

  • Menyiapkan catatan pelaksanaan.
  • Melakukan penelitian bangunan secara cermat dan melakukan perbaikan jika ada kerusakan.
  • Melakukan pengujian untuk memastikan sifat kedap air bangunan.
  • Melakukan pengujian dan menyesuaikan seluruh fasilitas. 
  • Membuat petunjuk operasi dan juga pedoman pemeliharaan.
  • Melakukan pelatihan terhadap staf. 

Aplikasi Manajemen Proyek Konstruksi 

Berikut ini adalah beberapa aplikasi manajemen proyek konstruksi yang banyak digunakan: 

  • Accurate: ini merupakan aplikasi pembukuan, namun memiliki fitur khusus yang bisa digunakan dalam proyek konstruksi. 
  • Clear Estimate: aplikasi ini memiliki template khusus yang bisa digunakan kontraktor untuk mempersiapkan rencana proyek dalam waktu singkat.
  • CoConstruct: aplikasi ini cocok digunakan dalam proyek pembangunan rumah daripada pembangunan proyek lainnya. 
  • Jobber: ini merupakan aplikasi yang terbilang mudah digunakan, bahkan untuk pemula yang baru terjun ke dunia kontraktor sekalipun. 
  • Tomps: aplikasi ini memiliki fitur yang lengkap dan bisa digunakan untuk proyek kecil maupun proyek yang berskala besar. 

Baca Juga: Mengenal Pondasi Bored Pile yang Membuat Bangunan Kokoh

Manajemen Proyek Konstruksi Permudah Penanganan Proyek 

Manajemen proyek konstruksi merupakan usaha manajemen yang akan membantu proses pembangunan proyek. Manajemen ini banyak digunakan, baik itu dalam proyek yang besar maupun proyek kecil. Meski tidak menangani pekerjaan proyek secara langsung, manajemen proyek konstruksi akan memastikan pengerjaan proyek sesuai dengan biaya, mutu dan waktu yang sudah ditetapkan. 

Peran asuransi properti dalam kategori asuransi umum di Cermati Protect menonjol sebagai penopang keamanan dan ketahanan proyek. Melalui pemahaman mendalam tentang cakupan asuransi properti, pemangku kepentingan proyek dapat melindungi investasi mereka dari risiko yang mungkin timbul selama proses konstruksi.

Cermati Protect memberikan solusi yang komprehensif untuk mengatasi tantangan tersebut, menjadikan asuransi properti sebagai payung perlindungan yang tidak hanya melibatkan manajemen proyek secara efisien tetapi juga memberikan ketenangan pikiran. Ingin tahu lebih banyak mengenai asuransi umum yang juga memiliki fasilitas asuransi properti di Cermati Protect? Isi formulir dibawah ini: