Sering Burnout di Tempat Kerja? Atasi Dengan Cara Ini!
Burnout adalah kondisi yang acap kali dialami oleh kebanyakan orang. Kondisi ini dipicu oleh workload atau beban kerja yang berlebihan. Jika tidak segera diatasi, maka seseorang rentan mengalami stres yang berkepanjangan di tempat kerja.
Sebagai seorang pekerja, kamu tentu tidak menginginkan hal ini terjadi, bukan? Tentu tidak, karena hal ini dapat menghambat produktivitas dan membuatmu menjadi tidak termotivasi melakukan apa-apa di tempat kerja. Hasil akhirnya tentu sangat merugikan perjalanan karirmu di masa depan.
Penyebab Burnout di Tempat Kerja

Ketika mengalami burnout, kamu biasanya menjadi tidak termotivasi untuk melakukan pekerjaan. Burnout ini biasanya disebabkan karena beberapa hal, di antaranya.
Penyebab Internal
Penyebab pertama adalah karena faktor internal yang mencakup:
- Jenis kelamin, di mana perempuan menjadi sosok yang lebih sering burnout dibandingkan laki-laki
- Usia, di mana rentang usia 20-30 tahun sering mengalami burnout
- Kepribadian seseorang
- Status pernikahan, di mana orang yang sudah menikah cenderung burnout karena kehidupan yang dimilikinya lebih kompleks
- Tingkat pendidikan, di mana orang yang memiliki level pendidikan lebih rendah rentan mengalami burnout
Penyebab Eksternal
Selain faktor internal, terdapat pula faktor eksternal yang menjadi penyebab terjadinya burnout di tempat kerja. Secara eksternal, penyebab burnout mencakup:
- Masa kerja yang terlalu lama
- Lingkungan sekitar, khususnya yang toxic
- Beban kerja yang terlalu banyak
- Tidak memiliki teman yang bisa diajak bertukar pikiran di tempat kerja
Baca Juga: 6 Tips Menjaga Kesehatan Mental Saat Kerja Remote
Fase-Fase Saat Mengalami Burnout
Meski sering dialami di tempat kerja, burnout adalah kondisi yang dipicu oleh suatu hal dan tidak serta-merta terjadi di dalam dunia kerja. Ada lima tahapan burnout, di antaranya.
| Fase Honeymoon | Fase pertama dalam burnout adalah honeymoon. Seperti namanya, dalam fase ini kamu menjadi sangat antusias, optimis, dan penuh energi saat bekerja. Meski diberi tugas yang banyak, kamu bisa menyelesaikan tugas tersebut dengan baik, sehingga dirimu merasa produktif. Namun, perasaan ini tidak bertahan lama, terutama jika kamu mendapat tekanan. Jika tidak diatasi dengan pikiran positif, maka ini menjadi cikal-bakal terjadinya burnout. |
| Fase Merasa Stagnan | Dalam fase ini, kamu merasa bahwa ada banyak hal-hal berat yang terjadi dalam hidup dan sangat sulit untuk diatasi. Akibatnya, kamu menjadi stuck di satu pekerjaan dan butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Tuntutan pekerjaan yang terus-menerus datang membuat fisik dan mental menjadi terganggu. Selain itu, rasa percaya diri yang kamu miliki perlahan-lahan menjadi berkurang. Kamu sering lupa, mudah cemas, merasa kurang baik, dan akhirnya mengalami gangguan tidur. Jika dibiarkan secara terus-menerus, maka fase ini akan berlanjut ke tahap stres kronis. |
| Fase Stress Kronis | Setelah perasaan stagnan tak kunjung teratasi, kamu akan memasuki fase stres kronis. Fase ini tentu lebih parah daripada dua fase sebelumnya di mana emosi menjadi sulit terkontrol. Hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan bisa menjadi masalah untukmu. Dalam fase ini, kamu menarik diri dari lingkungan. Bahkan masalah yang sebenarnya perlu diselesaikan justru kamu hindari karena kamu merasa tidak mampu menghadapinya. Kamu sering merasa draining atau lelah padahal tidak melakukan apa-apa. |
| Fase Burnout | Fase selanjutnya adalah burnout. Gejala-gejala dari fase ini cukup parah, seperti sering mengabaikan orang di sekitar, melalaikan pekerjaan, dan kehilangan gairah untuk beraktivitas. Terkadang, kamu mulai mati rasa dan meragukan diri sendiri. Jika tidak segera ditangani, maka fase burnout ini akan menggerogoti fisik. Kamu mulai mengalami gangguan pencernaan, mudah pusing, dan imun menjadi lemah. |
| Fase Burnout Berkepanjangan | Fase yang terakhir adalah fase burnout berkepanjangan. Fase ini dapat menyebabkan tingkat kecemasan yang tinggi, bahkan depresi. Orang yang mengalami burnout berkepanjangan juga mudah merasa lelah, baik secara mental maupun fisik. Kamu yang sudah terbiasa dengan kondisi ini mungkin merasa baik-baik saja. Padahal, kamu membutuhkan bantuan orang lain untuk mengatasinya. Jangan ragu untuk meminta bantuan profesional agar burnout bisa mereda. |
Baca Juga: Pentingnya Kesehatan Mental dan Tips Menjaganya
Perbedaan Stres Kerja Biasa vs. Burnout
Banyak orang menyamakan stres dengan burnout, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar pada cara seseorang merespons tekanan pekerjaan. Memahami perbedaan ini sangat penting agar Anda dapat mengambil tindakan pemulihan yang tepat.
| Karakteristik | Stres Kerja Biasa | Burnout (Kelelahan Kerja) |
| Sifat Keterlibatan | Terlalu terlibat (Over-engagement). | Menarik diri atau lepas (Disengagement). |
| Respons Emosional | Emosi cenderung meluap-luap/reaktif. | Emosi terasa tumpul, hampa, atau sinis. |
| Dampak Energi | Kelelahan fisik (kehilangan energi). | Kelelahan mental (kehilangan motivasi). |
| Fokus Masalah | Merasa harus segera menyelesaikan tugas. | Merasa pekerjaan tidak ada gunanya lagi. |
| Risiko Utama | Gangguan kecemasan (Anxiety). | Depresi dan perasaan tidak berdaya. |
Tips Mengatasi Burnout di Tempat Kerja

Sering mengalami burnout di tempat kerja? Tenang saja, tips berikut akan membantu kamu untuk mengatasi burnout yang kerap kali terjadi.
1. Ambil Waktu untuk Relaksasi
Bekerja adalah hal yang melelahkan dan lama-kelamaan bisa menyebabkan burnout. Maka dari itu, beri diri sedikit waktu untuk relaksasi dari apa yang sedang dikerjakan. Tidak perlu traveling karena dengan mendengarkan musik, membuat kopi, dan meregangkan tubuh sudah cukup.
Relaksasi sangat diperlukan untuk mengendurkan otot-otot yang mulai tegang akibat bekerja. Relaksasi yang cukup membuat kamu menjadi semangat lagi melanjutkan pekerjaan. Waktu yang dimiliki dapat digunakan secara efektif, sehingga hasil kerja menjadi optimal.
2. Beri Batasan pada Diri Sendiri
Memberi batasan pada diri sendiri sangat baik untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan tentunya menjauhkanmu dari burnout. Kamu bisa memanfaatkan cuti tahunan untuk libur sejenak dari rutinitas yang melelahkan. Manfaatkan waktu ini untuk relaksasi maksimal sebelum kembali bekerja.
Fokuslah pada diri sendiri dan ciptakan kehidupan yang diinginkan. Matikan semua notifikasi yang berhubungan dengan pekerjaan dan nikmatilah waktu cuti yang dimiliki. Dengan cara ini, kamu bisa kembali bekerja dengan semangat nantinya.
3. Jauhi Lingkungan yang Toxic
Tidak semua lingkungan kantor itu sehat. Ada banyak lingkungan kantor yang toxic, yang akhirnya mempengaruhi kesehatan mental dan fisik para karyawan. Jika lingkungan kantormu termasuk salah satunya, ini saatnya untuk menjauh secara perlahan.
Kamu boleh berada di dalam lingkungan tersebut, tapi jika hal yang dibicarakan berhubungan dengan pekerjaan. Jika tidak, lebih baik jangan bergabung demi kesehatan mental. Sebab, orang-orang yang toxic bisa mempercepat terjadinya burnout, terutama jika kamu tidak bisa membangun batasan yang baik.
4. Cari Kesibukan di Luar Kantor
Tips mengatasi burnout selanjutnya adalah dengan mencari kesibukan di luar kantor. Temukan aktivitas yang menyenangkan atau lakukan hobi yang selama ini terbengkalai karena kamu sibuk untuk bekerja. Hal ini bisa membuat hidup lebih berwarna dan kamu menjadi lebih menikmati hidup.
Misalnya, dengan bergabung dalam klub sepeda, lari, pilates, atau menjadi volunteer di dalam kegiatan sosial. Melakukan kegiatan yang berbeda membuat otak lebih fresh. Bisa jadi karena kegiatan seperti ini, kamu bisa menemukan ide brilian yang bisa diimplementasikan di dalam pekerjaan nanti.
5. Melakukan Meditasi
Perkembangan teknologi dan komunikasi sejatinya baik untuk memudahkan pekerjaan manusia. Namun, di sisi lain justru timbul dampak negatif, seperti mudah merasa burnout karena informasi negatif yang dibaca di media sosial. Agar pikiran dan reaksi dari dalam diri menjadi terkontrol, mulailah untuk melakukan meditasi.
Meditasi baik untuk kesehatan, seperti dapat menghilangkan stres, depresi, dan kecemasan. Melalui meditasi, kamu bisa belajar untuk melatih cara berpikir positif dan mengatur emosi menjadi lebih baik. Setiap kali ada masalah di kantor, kamu bisa mengatasinya dengan tenang, sehingga tidak menimbulkan burnout yang dapat merugikanmu.
6. Tidur yang Cukup dan Berkualitas
Otak dan tubuh yang terus-menerus bekerja tentu akan merasa lelah. Untuk mengatasinya, kamu butuh tidur. Bukan sekedar tidur, tapi tidur yang cukup dan berkualitas.
Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang kurang tidur berisiko mengalami burnout dan diserang berbagai penyakit. Sebab, metabolisme tubuh tidak dapat bekerja dengan baik dan fungsi imun tubuhnya terganggu. Pastikan kamu mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas setiap hari, setidaknya 6 jam per hari sebelum kembali beraktivitas keesokan harinya.
Baca Juga: Tips Perusahaan Menjamin Kesehatan Karyawan di Kantor
Jaga Keseimbangan Hidup Demi Kesehatan Fisik dan Mental
Burnout bisa dialami siapa saja dan terjadi kapan saja. Namun, kamu bisa mengatasinya dengan menerapkan tips-tips yang sudah dijelaskan di atas. Agar hasilnya lebih maksimal, sebaiknya jaga keseimbangan hidup dengan cara memisahkan antara masalah pribadi dan pekerjaan demi kesehatan fisik dan mental.
Luangkan sedikit waktu untuk bersantai dengan cara-cara yang sederhana, baik di kantor maupun di rumah. Jika kamu mulai merasa stagnan, jangan ragu untuk ajukan cuti agar kamu bisa relaksasi walau cuma satu hari. Burnout bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele karena dapat menyebabkan stres dan depresi yang memperburuk kondisi hidupmu di masa depan.
Penting bagi perusahaan untuk memberikan perlindungan kesehatan fisik dan mental kepada karyawan melalui asuransi kesehatan karyawan. Untuk mendapatkan asuransi kesehatan karyawan terbaik di Cermati Protect yang menyediakan berbagai penawaran dari banyak perusahaan asuransi yang berbeda. Mereka juga menawarkan layanan tinjauan klaim reguler dan tim klaim 24/7 yang siap membantu karyawan mengurus klaim kesehatan kapan saja. Pelajari selengkapnya dengan mengisi formulir dibawah ini!

1 comment
Comments are closed.